Rabu, 28 Januari 2009

Rayakan Imlek, Kirab Jut Bio

TEMANGGUNG - Tahun baru Imlek dirayakan meriah di Kecamatan Parakan, Temanggung. Di kota berhawa sejuk yang pernah di juluki The Little China Town oleh penguasa kolonial Belanda ini, berbagai atraksi mengiringi kirab Kongco Hok Tek Cing Sin atau Jut Bio. Berbagai atribut ikut dikirab keliling kota, kemarin.

Liukan Liong, bendera Hok Tek Tong, bendera Hok Tek Cin Sin, dua buah Teng, Gembreng, Kio dan barisan berkaos merah bukan dari salah satu partai tapi merupakan ciri budaya Tionghoa. Antusiasme penonton dari berbagai kalangan campur baur membentengi jalan karena di barisan belakang ikut juga mangayubagyo kesenian tradisional Pandesiswo dari Desa Pandesari Parakan yang di nakodai H Yoto.

Kirab dimulai dari Klenteng Hok Tek Tong Jalan Letnan Suwaji No 6 Parakan. Klenteng ini didirikan sekitar tahun 1842 oleh Siek Hwie Soe di atas tanah pribadinya, namun pada tahun 1844 mengalami kebakaran. Atas prakarsa dari Letnan Lie Tiauw Pek mengumpulkan para dermawan, maka pada tahun 1877 kelenteng Hok Tek Tong dapat dibangun kembali.

Dari sejarah kota Parakan, peran Etnis Tionghoa tidak boleh diremehkan, mulai dari masa penjajahan Belanda sampai dengan sekarang, bahkan Etnis Tionghoa di Litle China Town ini mencapai 40 persen dari jumlah penduduk, walaupun sebagian keturunan Etnis Tionghoa telah berbaur baik secara lingkungan maupun perkawinan dengan wong asli Temanggung.

"Namun diharapkan budaya Tionghoa bisa memperkaya keanekaragaman budaya di Temanggung," kata salah seorang panitia kirab, Yu Bien menjelaskan tentang perayaan imlek tahun ini.

Menurut penanggalan Tionghoa tahun ini adalah 2560 yang merupakan tahun dengan Shio Kerbau yang diprediksi akan penuh gejolak, tapi masyarakatnya masih bisa terjalin keutuhannya, tidak tercerai berai secara etnis. Makna lain adalah apabila seseorang dimotivasi atau diberi dukungan maka akan mengendorkan semangatnya, namun sebaliknya apabila digembosi serta dikecilkan hatinya maka akan timbul semangatnya.

"Inilah Temanggung yang kaya akan budaya dari berbagai pelosok, termasuk dari negeri sebrang, akankah kita menyia-nyiakan keutuhan Temanggung yang telah terbina selama ini," tutur Bien.(dem)( Jawa Pos, 28 Januari 2009)

Imlek di ’The Little China Town’ Parakan, Temanggung Kesenian Jawa pun ikut arak-arakan

GONG XI FA CHAI. Perayaan tahun baru Imlek 2560 di Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung yang sangat meriah diakhiri dengan perayaan Cap Go Meh. Di kecamatan kota berhawa sejuk, yang pernah dijuluki The Little China Town oleh penguasa kolonial Belanda ini, sejumlah atraksi digelar mengiringi kirab Kongco Hok Tek Cing Sin atau Jut Bio, kemarin. Begitu pula berbagai atribut ikut dikirab keliling kota. Liukan liong, bendera Hok Tek Tong, bendera Hok Tek Cin Sin, dua buah teng, gembreng, kio dan barisan orang berkaos, semuanya bernuansa warna merah yang merupakan ciri budaya Cina.

Sementara antusias penonton dari berbagai kalangan terlihat campur baur ”membentengi” jalan yang digunakan untuk atraksi, yang di antaranya di barisan belakang ikut juga kesenian tradisional Pandesiswo dari Desa Pandesari, Parakan yang dipimpin H Yoto.

Kirab dimulai dari Kelenteng Hok Tek Tong, Jalan Letnan Suwaji No 6 Parakan. Kelenteng ini didirikan sekitar tahun 1842 oleh Siek Hwie Soe di atas tanah pribadinya, namun pada tahun 1844 mengalami kebakaran. Atas prakarsa dari Letnan Lie Tiauw Pek yang mengumpulkan para dermawan, maka pada tahun 1877 kelenteng Hok Tek Tong dapat dibangun kembali.

Membaur
Peran etnis Tionghoa di kota ini tidak bisa diremehkan sejak masa penjajahan Belanda sampai dengan sekarang. Etnis Tionghoa yang berdiam di The Little China Town ini mencapai sekitar 40 persen dari jumlah penduduk. Sebagian keturunan telah berbaur baik, secara lingkungan maupun perkawinan dengan wong asli Temanggung.

”Budaya Cina diharapkan bisa memperkaya keanekaragaman budaya di Temanggung,” kata seorang anggota panitia kirab, Yu Bien. Heri Setyadi-Ct (Wawasan, 27 Januari 2009)

Sabtu, 24 Januari 2009

Makanan dan sesaji untuk menyambut Tahun Baru Imlek

PENDAHULUAN
Masyarakat Tionghoa pada umumnya merayakan datangnya Tahun Baru Imlek, biasa disebut Sincia atau pesta awal musim semi yang dimulai tanggal 1 Cia-gwee dan berakhir pada tanggal 15 Cia-gwee saat dirayakan Cap Go Meh atau Pesta Goan Siauw, melakukan beberapa upacara ritual keagamaan berupa sembahyang menyambut Tahun Baru Musim Semi (Imlek), sembahyang King Ti Kong (Tuhan Allah) dan dilajutkan dengan pesta Cap Go Meh, walaupun sebelumnya mereka juga melakukan upacara sembahyang untuk para Sinbing seperti Dewa Dapur (Cao Kun Kong), Dewa Bumi (Thouw Te Kong) dan Malaikat Kota (Shia Hong Sin) dan lain sebagainya.

Masyarakat Tionghoa yang ada di Nusantara ini terdiri dari berbagai suku seperti, suku Hokkian, Khek (Hakka), Tiociu, Hokcia, Kongfu (Kanton), dll. Dalam merayakan Tahun Baru Imlek ini pun mereka merayakan dengan beberapa perbedaan. Sedangkan suku Hokkian merupakan mayoritas yang ada di Jawa Tengah. Dalam merayakan Tahun Baru Imlek ini, suku Hokkian yang ada di Jawa Tengah pasti berbeda dengan suku Hokkian yang ada di Medan, Surabaya, Jakarta, Palembang, Pontianak dan Manado.
Tulisan ini banyak menggunakan bahasa atau dialek Hokkian.

MAKANAN DAN SESAJI
Orang-orang Hokkian pada umumnya membuat makanan dan sesaji yang mempunyai makna dan lambang-lambang untuk kemakmuran, panjang umur, kebahagian dan limpahan rezeki.
Beberapa makanan dalam bentuk kue (berasal dari dialek Hokkian “kwe” atau “guo” dalam bahasa Mandarin), biasanya juga wajib dipersembahkan di altar sembahyang, meja abu atau Kong-po. Demikian pula makanan atau sesaji untuk upacara ritual di Jawa Tengah sebenarnya agak berbeda antara Jawa Tengah pesisir utara dan pedalaman. Di pedalaman Jawa Tengah, pengaruh lokal jauh lebih terasa daripada di pesisir. Selain itu ragamnya pengaruhnya lebih kaya dan ukurannya pun lebih kecil dan cantik.

Sesaji pedalaman terdiri dari :
• Wajik Ketan, terbuat dari ketan dan gula Jawa, Jadah Ketan
• Kue Ku (kue bentuk kura-kura berisi kacang tanah untuk yang berwarna hitam, dan kacang hijau untuk yang berwarna merah)
• Tape Ketan
• Kue Mangkok
• Kue Lapis, Sengkulun, Persikan, Lemper, Jongkong
• Kue Keranjang
• Dll

Sesaji pesisiran terdiri dari :
• Kue Keranjang
• Kue Ku (ukurannya lebih besar)
• Wajik Tumpeng (warna merah atau coklat gula Jawa)
• Kue Moho atau “Hwat-kwe” warna merah jambu (yang tanpa isi merekah, dan/ atau yang berisi kacang hijau manis)
• Kue Mangkok
• Kue Lapis
• Kue Lapis Legit
• Kue Nagasari
• Kue Bugis, lemper, Madu Mongso, Corobikang
• Bongko Cunduk, Bongko Meniran, Bongko Kopyor
• Dll.

Manisan :
• Tong-kwa atau Tang-kwee (manisan Beligo)
• Ang-co
• Kit Pia
• Manisan Belimbing
• Atap-seng (manisan kolang-kaling)
• Dll.

Buah-buahan :
• Pisang Raja atau Pisang Mas 1 (satu) sisir
• Tebu Wulung
• Srikaya
• Jeruk Bali (lengkap dengan tangkai dan daunnya)
• Delima yang berwarna Merah
• Kelengkeng
• Jeruk Mandarin
• Belimbing
• Dll.

Makanan untuk dimakan :
• Siu-mie (Mie Panjang Umur) (untuk disajikan dalam makan malam bersama keluarga menjelang tahun baru), orang Hokkian biasa membuat Lo-mie.
• Masakan yang dicampur dengan rumput laut seperti rambut (Fucai)
• Lontong Opor Cap Go Meh (untuk disajikan dalam pesta Cap Go Meh)

Minuman :
• (Arak) To So Ciu

Cemilan :
• Kwaci, Kacang Kulit, Permen, dll.


SIMBOLISME MAKANAN DAN SESAJI

Tujuan daripada sembahyang dengan persembahan makanan dan sesaji ini adalah, merupakan wujud syukur dan doa harapan agar di tahun depan memperoleh tambahan rezeki yang lebih baik, kesehatan, kebahagiaan, kemakmuran, panjang umur, dan limpahan rakhmat, karunia, pertolongan dan perlindungan dari Thian Yang Maha Kuasa, serta untuk menjamu para leluhur, dan berkumpul bersama seluruh keluarga.

Makanan dan sesaji sembahyang yang dipersembahkan di atas altar atau meja sembahyang baik yang murah maupun yang berharga tinggi sekali pun hanya merupakan lambang untuk mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Thian Yang Maha Kasih, yang telah memberikan berkah dan karunianya, sehingga manusia dapat memperoleh penghidupan yang layak. Seluruh sesaji persembahan yang diletakkan di atas altar tersebut, semuanya adalah hasil ciptaan Thian Yang Maha Kuasa di bumi ini.

Segala makanan dan sesaji ini mempunyai arti dan lambang-lambang seperti beberapa contoh sebagai berikut :

WAJIK TUMPENG (WAJIK KETAN)
Melambangkan pengetahuan yang luhur, supaya disebarluaskan sesuai dengan bentuknya yang runcing pada puncaknya dan makin melebar dan luas ke bagian bawahnya. Dapat disimpulkan bahwa, seorang pemimpin atau kepala tentunya dipilih dari orang-orang yang beriman dan berpengetahuan luhur dan berbudi, mengerti dan dapat membedakan antara yang benar dan salah. Yang baik dan benar supaya disebarluaskan, sedangkan yang jelek atau salah supaya diberi bimbingan dan pengarahan menuju ke arah kebenaran dan kebaikan.

KUE KU
Melambangkan panjang umur.

KUE MOHO (HWAT KWE)
Melambangkan sumber rezeki untuk amal. Bentuk kue ini merekah (megar, bhs. Jawa) di bagian atasnya menjadi empat bagian yang mengibaratkan sumber rezeki yang berlimpah ruah, sebab sumber rezeki merupakan pokok utama untuk kehidupan manusia sehari-hari. Tanpa sumber rezeki kita takkan dapat bertahan hidup.

KUE LAPIS LEGIT ATAU KUE LAPIS
Melambangkan datangnya rezeki yang berlapis-lapis.

KUE KERANJANG
Rasa manis kue keranjang melambangkan hubungan antara anggota keluarga dan orang sekitarnya. Lengketnya melambangkan eratnya hubungan antar anggota keluarga dan orang sekitarnya. Bentuk kue yang bulat melambangkan kesatuan dan kesatuan hubungan antara anggota keluarga dan orang sekitarnya.
Kue keranjang yang disusun ke atas dengan kue Moho berwarna merah di bagian atasnya, melambangkan harapan agar kehidupan dan penghidupan menjadi manis dan kian menanjak dan mekar seperti Kue Moho.

Kue keranjang secara keseluruhan melambangkan keharmonisan, kekentalan, keeratan, kesatuan yang utuh, hubungan antara manusia dengan lingkungannya, selaras dengan alam semesta secara menyeluruh (bulat) dan universal.

MANISAN TANG-KWEE (BELIGO)
Merupakan simbol ketulusan.

MANISAN ANG-CO
Disebut sebagai salah satu makanan para Dewa, melambangkan berkah.

MANISAN KOLANG KALING (BUAH ATAP)
Melambangkan agar manusia senantiasa berhati tetap dan mantap serta “eling” (ingat).

KIT-PIA
Kata “Kit” diartikan selamat.

PISANG RAJA ATAU PISANG MAS
Diartikan melambangkan kerukunan dalam rumah tangga dan masyarakat untuk membina persatuan dan kesatuan agar supaya hidup akur dan saling mengasihi.

JERUK MANDARIN (LOKAM)
Dalam bahasa Mandarai disebut Chi-tze, artinya buah keberuntungan.

SRIKAYA
Pengharapan menjadi kaya.

DELIMA MERAH
Agar hidup keluarga rukun.

BELIMBING
Melambangkan ketajaman pikiran.

JERUK BALI
Melambangkan kebahagiaan.

TEBU WULUNG
Melambangkan keselamatan. (khas suku Hokkian)

SIU-MIE (MIE PANAJANG UMUR) ATAU LO-MIE
Melambangkan panjang umur dan hidup bahagia serta murah rezeki.

TO SO CIU
Arak yang dicampur dengan berbagai ramuan obat-obatan Tiongkok, disajikan bersama menikmati Siu-mie. Melambangkan kehangatan dalam keluarga dan kehidupan yang sehat.

Penutup dari rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek ini ada pada saat Cap Go Meh, dimana masyarakat Tionghoa di Jawa Tengah biasanya menyajikan dan menyuguhkan Lontong Cap Go Meh.

Demikian makanan dan sesaji untuk perayaan Tahun Baru Imlek yang merupakan rangkaian upacara ritual dan sembahyang yang dilakukan oleh masyarakat Tionghoa pada umumnya dan khususnya kaum suku Hokkian di wilayah Jawa Tengah yang begitu beragam dan penuh dengan nilai-nilai filosofi yang tinggi.

Selamat menikmati bersama keluarga, sanak saudara, teman dan sahabat.

o GONG XI FA CAI
o SIN CUN KIONG HI, THIAM HOK THIAM SIU, BAN SU JI I
o SIN CIA JU I (TANG-TANG JU I)
o KHIONG HI KUO SIN NYAN
o KHUNG HEI FAT CHOY
o KONG HE SIN SHI

Capgomeh

PENDAHULUAN

Hari Raya Capgomeh, sebagai akhir dari serangkaian Hari Raya Tahun Baru Imlek, tahun ini jatuh pada tanggal 9 Pebruari 2009. Capgomeh sebagai bagian terpenting dan titik klimaks dari pesta agama yang oriental (bersifat ke timuran). Hari Raya Imlek dan teristimewa Capgomeh sejak abad ke 19 sampai perang dunia ke II pecah, boleh dikatakan telah menjadi pesta rakyat semua golongan. Bahkan keadaan demikian itu sampai tahun 1955 di Bogor, Sukabumi, Jakarta Kota, Jatinegara mau pun Tangerang masih terlihat sebagai pesta agama yang merakyat menjadi milik semua golongan. Orang-orang yang berusia di atas 55 sampai 65 tahun tentunya dapat banyak bercerita tentang pesta agama yang nyaris menjadi pesta rakyat itu.
Walau pun Capgomeh sebagai titik klimaks pesta Tahun Baru Imlek di Semarang sudah jarang dirayakan, tetapi tentu tidak salah jika kita mengintip sejenak sebagai “kuriosita” (sebagai keingintahuan) saja, mumpung belum dimuseumkan.

HARI RAYA TIMUR PURBA
Hari Raya Tahun Baru Imlek yang jatuh pada tanggal 26 Januari 2009 merupakan Hari Raya Agama Paleo-oriental (Timur Purba) yang berazaskan pada mite dan kosmogoni (kepercayaan tentang penciptaan alam semesta berserta seluruh isinya oleh Tuhan Yang Maha Esa). Paleo-orientalisme itu universal, merupakan kepercayaan dan agama yang dianut di dunia lama yang bersifat Asiatic dan Oceanic sekaligus. Namun di banyak bagian dunia lama itu kemudian menyimpang, maka kepercayaan dan agama yang pada mulanya berazaskan mite dan kosmogoni itu sekarang hanya tinggal dan terdapat di Asia Timur dan tercecer di kawasan Pasific.
Maka Hari Raya Tahun Baru Imlek ini merupakan perayaan yang memperjuangkan atau berusaha mengarah untuk bersatu dengan Tuhan Yang Maha Esa berazaskan mite dan kosmogoni sebagai “Kejadian” (Genesis) dan “Realita Suci” yang diakui. Hari Raya Tahun Baru Imlek atau biasa disebut Sincia merupakan Pesta Awal Musim Semi yang mengandung semua anasir pergantian tahun. Pesta Tahun Baru ini juga merayakan hidup kembalinya alam semesta, yang sebelumnya dalam keadaan mati selama musim dingin yang gelap dan suram itu, yang seolah-olah mendapat jiwa yang baru, maka umat Tuhan merasa girang, dan kegirangan itu yang menjadi asal-usul Perayaan Tahun Baru oleh bangsa Tionghoa.
Hari Raya Tahun Baru bukan merupakan Hari Lahir yang historik nostalgis yang mengenang kejadian sejarah, tetapi merupakan reaktualisasi kejadian Cosmogony Mytical (Pembabaran Jagad Raya) yang bertujuan untuk mendapatkan pembebasan, pembetulan, penertiban, penyembuhan, pensucian, permurnian, peremajaan dan pembaharuan yang kita ringkas saja artinya menjadi “Kembali pada yang orisinil”. Yang orisinil (asli) itu tidak lain ialah “Awal mula dan Asal usul” yaitu Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri.
Maka yang menciptakan Hari Raya Tahun Baru itu bukan manusia tetapi Tuhan sendiri yang menjadi arkhitekNya, sedangkan Pembabaran Langit dan Bumi itu merupakan penjabaran denahNya yang dipakai untuk landasan Hari Raya Tahun Baru, bahkan merupakan pedoman tata krama dan agama Timur yang melibat, melingkupi dan mengatur segala kebutuhan hidup manusia dalam daur waktu dan jagad yang dikeramatkan itu.
Maka Hari Raya Tahun Baru dan tak terkecuali Hari Raya lainnya, kesemuanya adalah dari dan mengarah kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian semua sarana atau wahana atau perangkat nilai yang dipakai untuk menjadi Hari Raya dan perayaannya, pada kenyataannya merupakan usaha yang mengikuti dan meniru-niru tata alam semesta (Imago Mundi).
Itulah sebabnya mengapa semua komponen yang terdapat di dalam Hari Raya merupakan rangkaian yang sanggup menampilkan formalitas ritual, liturgi, prosesi, keramaian, pertunjukan wayang dan berbagai macam hiburan lain-lainnya, tidak dapat dikatakan penampilan hura-hura saja. Tetap merupakan usaha untuk menerima kehadiran Yang Suci dan Keramat dalam keadaan utuh-seutuhnya serta selengkap mungkin. Tuhan menurut agama timur itu bukan kemiskinan, bukan kesedihan, tetapi merupakan kegembiraan, menghibur, suka cita dan lain sebagainya.
Jagad itu hidup dan berjiwa, bersama-sama dengan Daur Waktu merupakan dwi-tunggal; kedua-duanya itu menitis, berkembang dan mati pada akhir tahun dan lahir kembali pada awal tahun Baru; jagad dan daur waktu itu memang bertumimbal lahir (berinkarnasi) setiap tahun. Menurut persepsi Timur, jagad dan daur waktu diterima sebagai jabaran Tuhan, di mana Tuhan sendiri terlibat dan turut aktif berkarya di dalamnya. Ini bukan berarti bahwa persepsi Timur terlibat dalam memuja atau mengkultuskan alam. Langit dan Bumi itu dianggap suci bukan sebagai sekedar benda mati yang tak berjiwa. Langit dan Bumi dipuja, tepatnya karena nyata-nyata merupakan satu “Perwujudan Sakral”. Sebab, mereka tidak hanya tampil sebagai Langit dan Bumi in-natura saja, tetapi masih ada nilai-nilai yang menunjukkan adanya kesaktian yang dalam menampilkan kenyataan sangat luar biasa, yaitu rahim. Oleh karena itu dianggap sakti dan suci; penampilannya yang nyata, jelas dan langsung, selalu disertai perwujudan supranatural yang juga nyata, gamblang dan mudah dimengerti, dan memang seluruh alam semesta mempunyai kemampuan luar biasa dalam menjabarkan diri sebagai satu kesucian kosmik yang maha dasyat; Langit dan Bumi sebagai Jagad Raya dalam keseluruhannya dapat merupakan gerak perwujudan adanya kekuatan Tuhan Yang Maha Sakti dan Maha Rahim.

HARI RAYA TAHUN BARU
Hari Raya Tahun Baru merupakan pementasan kembali kegiatan Cosmogony Mythical; merupakan ritual yang menunjukkan lagi revolusi chaos-cosmos; satu perjuangan yang mengambil ruang, tempat dan daur waktu yang primordial dan asli (orisinil), dengan diakhiri oleh keberhasilan Tuhan dan para dewaNya. Maka, Tahun Baru sebetulnya menunjukkan satu kegiatan “perwujudan baru” Jagad Raya; itu berarti perbaikan kembali (restorasi) daur waktu primordial yang murni dan terjadi pada saat “Kejadian Besar” (pembabaran jagad). Inilah sebabnya mengapa Tahun Baru merupakan kesempatan untuk mengadakan kegiatan “pemurnian” baik yang dapat dilakukan dengan penyucian air putih, mau pun dengan pembakaran api merah. Maka, perayaan ini bukan pesta hura-hura, atau sekedar menghapus yang lama menyambut tahun yang baru, atau sekedar “pemurnian” saja. Tetapi lebih dari itu, seluruh nista noda, dosa, kesalahan, kesialan dan malapetaka, celaka dan bencana individu, keluarga, masyarakat dan alam lingkungan dapat dianulir seluruhnya.
Turutserta mengambil bagian dalam pesta, berarti: turutserta dalam usaha penghancuran chaos, nista, dosa dan lain-lain malapetaka, dan perjuangan untuk menerima kembali dunia baru yang tertib, teratur dan damai; membuat penerimaan baru, hubungan baru, kebangkitan baru, ikatan baru, pembebasan baru, pembabakan baru dan Firman baru; semua orang merasa terolah menjadi baru; mereka merasa lahir kembali dan dengan semangat baru mengawali kehidupan baru. Dengan setiap kali diadakan upacara Tahun Baru, mereka merasa lebih suci, lebih bersih dan murni, karena mereka telah merasakan dibebaskan dari dosa dan malapetaka, mereka telah menyatu dengan “saat kejadian yang mujizat” dan lagi pada saat yang sangat kuat dan sakti; sakti karena dihadiri oleh Tuhan, kuat karena babak waktu yang dimasuki merupakan “Karya Besar” yang pernah dan sedang diselesaikan lagi, yaitu “membangun Jagad Baru”. Secara simbolis mereka berada bersama-sama dengan kosmogoni, artinya turut hadir juga pada waktu dunia/jagad baru dibabarkan, bahkan turut berjuang meniru para dewata mengikuti kehendakNya dalam pembabaran dunia/jagad baru (manunggal).
Mudah dimengerti mengapa orang mengunjungi daur waktu yang romantis namun penuh dengan kesaktian itu, dan mengapa mereka selalu berusaha untuk secara berkala kembali lagi kepadanya. Ini disebabkan karena dalam daur waktu yang demikian itu, Tuhan tampil dengan kekuatan dan kuasaNya yang paling besar, merupakan perwujudan kosmogoni ke-illahian yang paling unggul, merupakan pula kegiatan paradigmatis (model pola) yang kreativitas dan kekuatannya berlimpah-limpah. Masyarakat Timur itu selalu haus akan kenyataan-kenyataan itu, mereka akan berikhtiar untuk mengambil tempat pada sumber yang paling dekat dengan perwujudan yang primordial, atau pada waktu dunia sedang tengah menitis (in statu nascendi).

PERAYAAN TAHUN BARU IMLEK
Beberapa hari sebelum Tahun Baru tiba, pada waktu Jagad Raya menunjukkan kekalutan dan para dewa sibuk memerangi kepunahan alam semesta, sambil membangun bahtera baru untuk menyelamatkan benih-benih kehidupan bagi Jagad Baru yang tertib dan tenteram, begitu pula manusia pun sibuk membersihkan rumah dari kekotoran dan memperbaiki (mereparasi) kerusakan agar semua yang kotor, rusak dan jelek turut hanyut terbawa oleh tahun lama yang sebentar lagi akan berakhir. Inilah yang namanya “Tuhan dan manusia berada di dalam satu kecocokan/keselarasan” atau ”Persatuan yang tepat antara Tuhan dan Manusia”.
Pekerjaan pembersihan itu biasanya dilakukan oleh seluruh anggota keluarga, di bawah pimpinan seorang nenek yang pada hari-hari itu bersikap ekstra cerewet, tidak mengenal kompromi, sedangkan pekerjaan harus dilakukan secara cepat dan kontinu tanpa boleh mengomel sedikit pun, apalagi protes.
Pekerjaan itu terdiri dari mengapur/mengecat dinding, membetulkan/ mengganti kerusakan walau pun tidak ada yang rusak, membersihkan prabot rumah tangga dan jika perlu dipindah-pindahkan untuk sementara agar tempat-tempat yang biasanya terlindung oleh prabot-prabot dapat juga turut dibersihkan.
Pembersihan seluruh rumah itu berjalan terus, dan pada tanggal 29 Imlek ditambah lagi dengan persiapan untuk sembahyang dan belanja untuk keperluan hari-hari Tahun Baru. Pada hari ke 30 bulan Imlek terakhir jam satu siang semua aktivitas pembersihan harus sudah berhenti, perhatian sekarang tercurah pada upacara akhir Tahun Lama, maka dipanggilkan arwah leluhur untuk diberi tahu bahwa Tahun telah berakhir dan anak cucu telah selamat berhasil melewati saat-saat yang penuh bahaya dan beberapa saat lagi akan mencapai Jagad Baru yang sejahtera.

DEWA DAPUR NAIK KE LANGIT/SURGA
Lebih kurang 1 (satu) pekan sebelum hari Tahun Baru, yaitu dengan “perjalanan ke langit Sang Dewa Dapur, Chao Kun Kong”. Pada tanggal 23/24 bulan ke 12 naiklah sang Dewa Dapur ini kelangit untuk melaporkan kepada Thian mengenai sepak terjang para penghuni rumah yang dihuninya. Sebelumnya seluruh keluarga penghuni rumah tersebut melakukan pembersihan lingkungan rumah di mana mereka tinggal. Banyak keluarga yang tidak menyapu dalam rumahnya pada hari Tahun Baru dan dua hari berikutnya, supaya rezekinya tidak ikut tersapu keluar. Dan masih ada tabu lainnya yang bertalian dengan perayaan Tahun Baru Imlek, yaitu tiga hari lamanya orang tidak boleh mengucapkan kata-kata yang kasar atau berkelahi, karena rezeki bisa hilang.
Tempat Dewa Dapur, ya, di dapur. Dari kedudukannya ini, dipercaya bahwa sang Dewa ini memperhatikan segala tindak tanduk para penghuni rumah tersebut. “Naik” nya Dewa Dapur dihantar dengan membakar batang dupa (hio) dan mempersembahkan sesajian. Upacara ini lalu ditutup sambil mengucapkan selamat jalan sambil membunyikan mercon. Merconlah yang pertama-tama membawa berita gembira tentang kedatangan “Kedamaian dan Kemakmuran”. Mercon mewakili api, lambang kehidupan dan kebangkitan, maka mercon merupakan juga penghalau kematian dan menyambut kehidupan, memecahkan kesunyian, meledakkan keramaian, menghapus kesedihan, mengisi kegembiraan, mengganti kegelapan dengan memancarkan penerangan dan cahaya.
Satu hari menjelang Tahun Baru tiba, orang Tionghoa melakukan “Sembahyang Tahun Baru”. Keluarga yang memelihara abu leluhur atau papan arwah leluhur mengadakan sembahyang di muka meja abu tersebut dengan rangkaian prosesi yang cukup panjang. Bagi yang tidak memelihara abu atau papan arwah leluhur, biasanya meletakkan sebuah meja menghadap pintu muka rumahnya dan di atas meja ini ditempatkan semua keperluan (uba-rampe) untuk keperluan sembahyang tersebut yang dilakukan dengan sederhana. Sembahyang Tahun Baru ini harus diselenggarakan dengan sebersih-bersihnya. Bukan saja bersih lahir, melainkan juga bersih batin.
Di atas meja sembahyang biasanya diletakkan kue tahun baru yang dinamakan “nien kao”, atau di Indonesia dikenal dengan nama “kue keranjang”, karena kue tersebut dibuat dalam keranjang-keranjang budar dengan berbagai macam ukuran. Kue ini dapat disimpan lama tanpa menjadi busuk.
Di Jakarta ada pula semacam uba rampe yang khas untuk Sembahyang Tahun Baru berupa Ikan Bandeng yang disatukan dengan kue keranjang.
Besok paginya hari pertama bulan pertama Tahun Baru Imlek, yang sebetulnya juga merupakan Hari Raya Kebangkitan; pulihnya kembali unsur api sebagai lambang kehidupan, maka membanjirlah sitat-sitat (kutipan/nukilan) yang ditulis di atas kertas merah yang kemudian menghiasi jendela dan daun pintu dengan tulisan, seperti :
Mentari terbit di atas Cakrawala,
Fajar menyingsing di ufuk Timur,
Negara tertib, aman sentosa,
Rakyat senang hidup makmur.

DEWA DAPUR TURUN
Pada hari keempat orang dapat mendengar suara petasan (mercon) yang meletus dan menggelegar, hal ini dikarenakan untuk menyambut Dewa Dapur yang kembali dari perjalanannya ke langit. Hari ini dinamakan “Hari Dewa Dapur Turun”.

SEMBAHYANG TUHAN ALLAH (KING THI KONG)
Pada tanggal 8 malam ada orang Tionghoa yang mengatur meja sembahyang di depan pintu rumahnya. Orang ini melakukan “Sembahyang Tuhan Allah”, untuk menghormati Giok Hong Siang Te, Kaizar Pualam, yang hari ulang tahunNya jatuh pada esok harinya tanggal 9 bulan 1 Imlek, di mana sembahyang ini biasanya selesai setelah larut malam.
Sebetulnya seluruh Hari Raya Imlek itu adalah perayaan “Lahirnya unsur api”. Di angkasa api diwakili oleh Sang Mentari (Matahari) dan Sang Rembulan (Bulan); pada Hari Tahun Baru dilambangkan dan diperagakan dalam bentuk mercon sebagai pemberi tanda pertama pulihnya kembali siklus daur waktu satu tahun kosmik. Kemudian, menyusul api lilin, api dupa, api dapur, api lampu/lampion dan kemudian api unggun untuk upacara injak api pada pesta Capgomeh.

PESTA CAPGOMEH
GOAN SIAO adalah sebutan lain dari Goan Meh, yang berarti Malam Goan. Kata GOAN ini singkatan dari Siang Goan. Dan Siang Goan ini berarti bulan pertama tanggal 15. Sehingga Goan Meh berarti Malam Tanggal 15 atau Cap Go Meh. Cap Go = 15; Meh = malam. Malam tanggal 15 di mana sang rembulan berbentuk bulat penuh sempurna (purnama).
Jika Tahun Baru Imlek sebagian besar merupakan pesta keluarga, yang upacaranya dilakukan di dalam masing-masing rumah, maka Capgomeh merupakan pesta masyarakat yang upacaranya dilakukan di luar bangunan gedung rumah dan di jalan-jalan, berpusat pada kelenteng (tempat ibadat agama, kepercayaan dan tradisi Tionghoa).
Di pulau Jawa pesta Capgomeh terkenal juga sebagai pesta tengloleng (tanglung); oleh orang Belanda disebut “Lampionen feest” dan memang pada malam hari itu terlihat banyak berbagai macam bentuk lampu yang terbuat dari kertas atau kain yang dibawa oleh anak-anak atau para remaja di sepanjang jalan. Rumah penduduk pun rata-rata juga turut memasangnya, dan digantung di depan rumah.
Pesta Capgomeh memang terdiri dari banyak bagian yang mempunyai kaitan erat dengan agama, teristimewa yang cukup penting dan sentral, yaitu bagian prosesi yang intinya terdiri dari tandu (”kio”) Toapekkong dan para Sinbing, diiringi oleh Liong (naga), Barongsay dan Samsi, dan menyusul karnaval dan balmasque (pesta bertopeng).
Tandu atau joli (kio) digotong, dikirab dan dibawa keliling untuk pesiar di dalam kota, melambangkan perluasan lingkungan dan radius Jagad Baru. Upacara kirab gotong Toapekkong adalah arak-arakan ritual yang bertujuan untuk menganulir atau meruwat alam lingkungan setempat untuk menolak bala, wabah, kesedihan dan lain-lainnya untuk diganti dengan kegembiraan, pembaharuan, kesuburan, ketertiban dan sebagainya.
Jaman dulu di kota Semarang upacara kirab sebagai arak-arakan ritual yang tampil di muka umum, minimal pasti ada seperangkat alat musik gamelan yang dimainkan (ditabuh) mengikuti jalannya upacara sambil turut dalam arak-arakan.
Pada umumnya semua penduduk di kepulauan Nusantara menyukai permainan tari Naga (Liong) dan merasa simpati karena arti perlambangnya juga baik yang mengarah kepada persatuan seperti mosaik dengan lingkungan yang ada, mengarah kepada persatuan bentuk terpadu dalam segala perbedaan sesuai dengan yang diserukan oleh Empu Tantular yaitu “Bhineka Tunggal Ika”.
Gagasan gambaran Naga adalah pesan suci agar supaya manusia mengerti cara hidup damai dalam segala perbedaan. Damai antar manusia, damai dengan lingkungan, damai dengan diri sendiri. Karena semua perbedaan itu berasal dan kembali mengarah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

LIONG (Naga) adalah binatang fabel, merupakan benih-benih yang diangkut dan diturunkan untuk turut memberi kesuburan pada Jagad Baru. Sepasang Naga yang biasa terdapat di atas bangunan Kelenteng adalah sepasang naga jantan dan naga betina yang bertanduk menjangan, berbadan ular, bersisik ikan, bercakar garuda, bertapak macan, berkumis kucing, berjenggot kambing, berperut katak, bermoncong buaya, dan bertaring singa. Naga adalah Avatar yang selalu muncul dalam pembuatan Jagad Baru yang ”tata-titi-tenterem, gemah ripah lohjinawi, kerta raharja”. Naga bernafaskan api merah dan air putih, dua unsur kehidupan yang saling bertentangan tetapi saling memerlukan. Naga dikatakan bangkit dari air putih dan timbul, bangkit mengejar mentari merah, melambangkan chaos menjadi kosmos, dan melambangkan pula “kehendak Tuhan dalam mengatur masyarakat dan keluarga”.

BARONGSAY merupakan makhluk fabel yang tampil dengan membawa tugas suci. Makhluk yang merupakan Avatar ini sebetulnya juga merupakan Utusan. Ia tampil dan muncul dari dasar sungai sambil membawa kitab Pakua untuk mengajarkan rahasia hukum alam semesta kepada manusia agar supaya dapat bebas dari kebodohan dan mendapatkan pengetahuan. Barongsay berarti kuda naga berkepala singa yang Guru. Ba/Be (Ma) berarti kuda, Long (Liong/Lung) berarti naga, sedangkan Say berarti singa/(Tze) berarti Guru.

SAMSI adalah semacam singa yang harus dimainkan dengan tiga kaki, kaki keempat selalu tidak boleh menyentuh tanah. Seperti Barongsay, Samsi juga dimainkan oleh dua orang. Di atas batok kepalanya selalu dilukiskan huruf ONG (WANG) yang berarti “Raja”. Terdiri dari 3 (tiga) garis horisontal, atas-tengah-bawah, dan garis keempat vertikal sebagai penghubung. Tiga garis horisontal melambangkan Langit, Bumi dan Manusia, atau sorga dunia masyarakat, garis keempat melambangkan “Satu Hukum Tuhan”.

API UNGGUN yang juga merupakan salah satu atraksi khas agamis ini diselenggarakan di depan klenteng. Api dibuat dari kayu atau arang. Di atas api itu lalu orang-orang yang intrance boleh berjalan, tetapi orang yang berjalan di atas api itu tidak selalu intrance (biasa disebut tangsin/tatung). Jika air yang beberapa hari sebelum Tahun Baru dipakai untuk menyucikan dan menyuburkan, api juga dipakai untuk memurnikan dan menumbuhkan. Api membakar semua sisa kekotoran dosa, nista, kesalahan dan sebagainya yang tidak dapat dicuci oleh air.
Sebelum acara prosesi di mulai, masih ada satu upacara simbolis yang cukup penting, yaitu upacara membanting ular. Upacara ini melambangkan “penghancuran terhadap kekalutan (chaos)”. Belakangan ini, yang dibanting bukan ular sesungguhnya tetapi boneka ular yang dibuat khusus untuk keperluan itu, dan upacara ini saat ini jarang dilakukan.
Perayaan itu ditutup dengan membanjirnya rakyat dari semua golongan, baik yang berjalan-jalan saja untuk menonton Lampu (lampion/tengloleng/tanglung), maupun untuk mengikuti karnaval atau prosesi, atau pun berkaul atau memohon enteng jodoh dengan melintasi tujuh jembatan atau ngibing di jalan-jalan sambil menyaru dengan topeng (balmasque). Di jalan-jalan, tua, muda berbaur merayakannya dengan berombongan. Biasanya tiap rombongan mengurung diri dalam lingkungan tali agar supaya tidak ada ”anggotanya” yang kesasar dan hilang dalam lautan manusia di pesta Cap Go Meh itu. Dalam pesta ini biasanya orang-orang menyamar dengan menggunakan pakaian yang aneh-aneh atau memakai topeng. Pria memakai pakaian wanita, wanita berdandan seperti pria. Orang menyamar dalam pesta Capgomeh ini katanya untuk “membuang sial”. Dan ada yang berpendapat, apabila orang sudah mulai berbuat demikian, maka orang itu harus melakukannya berturut-turut hingga sampai 7 kali, jadi harus menyamar pula selama 6 kali perayaan Capgomeh berikutnya. Yang wanita berjalan-jalan dengan membawa beberapa batang dupa (hio) dan mencari 7 buah jembatan. Pada tiap jembatan mereka mengibas-kibaskan pakaiannya agar semua kesialan yang ada dalam dirinya hilang/dibuang dan membakar batang dupa. Hal ini dianggap mendatangkan kebaikan.
Khususnya pada perayaan Capgomeh di mana Sang Rembulan untuk pertama kalinya mencapai kesempurnaan, hampir semua orang Tionghoa khususnya di Jawa Tengah menikmati makanan Lontong Capgomeh (opor Capgomeh), yaitu makanan Jawa yang dibuat dan dihidangkan khusus untuk malam Capgomeh.

PAGELARAN WAYANG KULIT
Kelenteng-kelenteng di Nusantara sudah lama menghadirkan seni budaya asli pada berbagai macam pesta-pesta keagamaan. Baik yang terbuka untuk umum mau pun tidak. Di Jawa Tengah, Jawa Timur dan pulau Madura teristimewa pada Hari Raya Tahun Baru Imlek, kelenteng pada umumnya mengikutsertakan unsur seni budaya asli setempat, dalam hal ini terutama adalah pagelaran wayang kulit yang juga diketahui oleh umat kelenteng sebagai sarana yang sakral. Pertunjukan wayang kulit semalam suntuk di kelenteng telah menjadi adat kebiasaan atau menjadi bagian dari tradisi peribadatan Kelenteng di pulau Jawa dan Madura.
Demikianlah pesta agama yang sudah merakyat itu, yang sebetulnya tidak lain adalah, memohon terbentuknya Jagad Baru yang tata-titi-tenterem, gemah-ripah, loh-jinawi, kerta raharja, dan merupakan cita-cita manusia yang waras.

Thian adalah “rahasia kehidupan yang paling agung, rahasia dari rahasia, gerbang rahasia semua kehidupan”. Ia memberi tanpa batas baik kepada alam semesta mau pun kepada manusia. Karena itu, Ia disebut sebagai “Bunda Jagad Raya”. Ia adalah kaidah, irama dan kekuatan pendorong dalam seluruh jagad raya, dan azas penata yang berada di belakang semua yang ada.

SIN CHUN KIONG HI, THIAM HOK THIAM SIU, BAN SU JI I
1 Cia Gwee 2560

Rabu, 21 Januari 2009

Hipertensi

1. Definisi
Tekanan darah adalah desakan darah terhadap dinding-dinding arteri ketika
darah tersebut dipompa dari jantung ke jaringan. Tekanan darah merupakan
gaya yang diberikan darah pada dinding pembuluh darah. Tekanan ini bervariasi
sesuai pembuluh darah terkait dan denyut jantung. Tekanan darah pada arteri
besar bervariasi menurut denyutan jantung. Hipertensi terjadi karena desakan darah yang berlebihan dan hampir konstan pada arteri. Hipertensi juga disebut dengan tekanan darah tinggi, dimana tekanan tersebut dihasilkan oleh kekuatan jantung ketika memompa darah sehingga hipertensi ini berkaitan dengan kenaikan tekanan sistolik dan tekanan diastolik. Standar hipertensi adalah sistolik 140 mmHg dan diastolik 90 mmHg.
Hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah yang memberikan gejala berlanjut pada suatu target organ tubuh sehingga timbul kerusakan lebih berat seperti pada otak yang dapat menimbulkan stroke dan jantung yang dapat mengakibatkan penyakit jantung koroner.Sasaran pengobatan hipertensi untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas
kardiovaskuler dan ginjal. Dengan menurunkan tekanan darah kurang dari 140/90 mmHg, diharapkan komplikasi akibat hipertensi berkurang. Klasifikasi prehipertensi bukan suatu penyakit, tetapi hanya dimaksudkan akan risiko terjadinya hipertensi. Terapi non farmakologi antara lain mengurangi asupan garam. Olah raga, menghentikan rokok dan mengurangi berat badan, dapat dimulai sebelum atau bersama-sama obat farmakologi.

2. Gejala Klinis
Gejala yang sering dijumpai pada orang yang menderita hipertensi adalah:
a. Nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah, akibat
tekanan darah intrakranium.
b. Penglihatan kabur akibat kerusakan retina karena hipertensi.
c. Ayunan langkah tidak mantap karena kerusakan susunan syaraf.
d. Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerolus.
e. Edema dependen akibat peningkatan tekanan kapiler.
Peninggian tekanan darah kadang merupakan satu-satunya gejala, terjadi komplikasi pada ginjal, mata, otak, atau jantung. Gejala lain adalah sakit kepala,epistaksis, marah, telinga berdengung, rasa berat ditengkuk, sukar tidur, mata berkunang-kunang dan pusing.

3. Langkah Diagnostik/Penegakan Diagnosis
Sebelum dilakukan pemeriksana tekanan darah, responden dianjurkan atau dipastikan tidak melakukan aktifitas fisik yang melelahkan, agar tidak mempengaruhi hasil pemeriksaan. Dengan melakukan aktifitas fisik dalam batasan tertentu akan mempengaruhi naiknya tekanan darah seseorang.

Faktor-faktor yang dapat dimasukkan sebagai faktor risiko hipertensi adalah:
- Umur : Tekanan darah meningkat sesuai umur (umur lebih dari 40 risiko semakin meningkat).
- Ras : Kulit hitam > kulit putih.
- Urban/Rural : Daerah perkotaan > pedesaan.
- Geografis : Pantai > pegunungan
- Jenis Kelamin : Wanita > laki-laki
- Kegemukan : Gemuk > kurus
- Stres : Type A > B
- Makanan : Tinggi garam, Tinggi lemak,
- Minuman : Alkohol (Meninggi bila minum > 3x/hr)
- Kopi : Belum terbukti
- Rokok
- Diabetes Mellitus
- Pil KB : Risiko meninggi dengan lamanya pemakaian (± 12 tahun berturut-turut)

5. Upaya Pengelolaan
a. Pencegahan
- Mengukur tensi secara teratur
- Menurunkan berat badan pada obesitas/kegemukan
- Pembatasan konsumsi garam dapur
- Menghentikan konsumsi alkohol
- Menghentikan kebiasaan merokok
- Melakukan olahraga teratur dan istirahat cukup
- Diet rendak lemak jenuh
- Menghindari stress
- Pemberian kalium dlm bentuk makanan (sayur dan buah)
b. Pengobatan Hipertensi
- Berobat secara teratur
- Minum obat, walaupun tidak ada keluhan (obat seumur hidup)
- Ikuti nasehat dokter
- Diit rendah garam dan lemak jenuh
- Olah raga secara teratur
- Hadapi persoalan tidak dengan emosional
c. Diet Hipertensi
Hindari beberapa jenis makanan di bawah ini:
- Semua makanan termasuk buah dan sayur yang diolah dengan menggunakan garam dapur/soda; biskuit, daging asap, ham, bacon,dendeng, abon, ikan asin, sayur dalam kaleng, ikan kaleng, kornet, ebi,telur asin, telur pindang, sawi asin, asinan, acar, dll.
- Otak, ginjal, lidah, keju.
- Margarin & mentega biasa.
- Bumbu-bumbu; garam dapur, baking powder, soda kue, vetsin, kecap,terasi, maggi, tomato kecap, petis, taoco dll

Sabtu, 17 Januari 2009

Parakan, Temanggung


Parakan adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Indonesia. Kecamatan ini terletak di lereng Gunung Sindoro-Sumbing. Kota kecamatan Parakan dilintasi jalur dari Wonosobo ke Yogyakarta/Semarang dan Yogyakarta ke Jalur Pantura/Jakarta.
Berdasarkan catatan sejarah Nugroho Notosusanto, daerah Parakan ini adalah merupakan sima atau semacam tanah hibah pada masa Mataram Kuno. Beberapa peninggalan berupa prasasti dan candi bisa ditemui di sekitar wilayah Parakan, di antaranya Candi Gondosuli yang berada di sebelah tenggara Parakan.

Sejarah
Pada jaman penjajahan dulu daerah ini terkenal dengan senjata bambu runcing. Di mana para pejuang rakyat saat itu menggunakan bambu runcing. Bambu runcing adalah sebuah tongkat dari bambu berwarna kuning yang bagian ujungnya dibuat runcing, dibuat sebagai senjata yang sederhana namun ampuh setelah diberi doa oleh para kyai untuk melawan penjajahan Jepang sebelum kemerdekaan RI di daerah Kabupaten Temanggung (Jawa Tengah) dan penjajahan Belanda setelah Kemerdekaan (1945 - 1948) di daerah Ambarawa dan wilayah lainnya. Salah satu tokoh penggerak para pejuang pada masa itu adalah KH Subchi (nama aslinya ‘Subuki’) yang dijuluki ‘Jenderal Bambu Runcing’ (sekarang namanya diabadikan menjadi nama sebuah jalan di kampung kauman Parakan), sedangkan tokoh-tokoh yang lain diantaranya Sahid Baidzowi, Ahmad Suwardi, Sumo Gunardo, Kyai Ali, H. Abdurrahman, Istachori Syam'ani Al-Khafidz dan masih banyak lagi yang lain. Parakan juga merupakan tempat lahir tokoh perjuangan nasional Mohamad Roem, yang terkenal sebagai delegasi Indonesia dalam perundingan diplomasi Roem-Roijen.

Wilayah Administrasi
Parakan sebagai wilayah administratif kecamatan dibagi dalam 16 desa yang berbatasan dengan:
Utara : Kecamatan Ngadirejo, Jumo, dan Kedu, Kabupaten Temanggung
Barat : Kecamatan Kledung, Ngadirejo dan Bansari, Kabupaten Temanggung
Selatan : Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung
Timur : Kecamatan Kedu, dan Bulu, Kabupaten Temanggung

Desa/kelurahan
- Glapansari
- Sunggingsari
- Caturanom
- Depokharjo
- Ringinanom
- Wanutengah
- Parakan Kauman
- Parakan Wetan
- Dangkel
- Watukumpul
- Mandisari
- Campursalam
- Ngelondong
- Tegalroso
- Bagusan
- Traji

Pencaharian :
Rata-rata masyarakat Parakan masih berprofesi sebagai petani, baik tanaman pangan (padi dan jagung) maupun komoditas lain yang dulu sempat menjadi ciri khas, yakni tembakau. Profesi mayoritas kedua di Parakan adalah sebagai pedagang yang berpusat di beberapa pasar tradisional.

Aktivitas Keagamaan :
Mayoritas penduduk Parakan beragama Islam, terbukti dengan banyaknya masjid, surau dan pesantren di daerah ini. Namun demikian, terdapat juga wihara, kelenteng dan gereja yang membuktikan eksistensi pemeluk agama lain di kota tersebut. Toleransi antarumat beragama di Parakan relatif tinggi yang dibuktikan di antaranya dengan berbagai perayaan hari besar keagamaan yang turut dimeriahkan oleh penganut agama lainnya. Milsanya pada malam sebelum Hari Raya Idul Fitri, masyarakat mengadakan pawai obor keliling kota dan didukung dengan semarak oleh mereka yang beragama lain. Pada saat hari raya Idul Fitri pun mereka yang berlainan agama saling bersilaturahmi tanpa membedakan suku dan agama. Ada juga "Parade Kesenian Tradisional Islam" yang biasanya diadakan tiap tanggal 1 Hijriah (Tahun Baru Islam) berpusat di depan Masjid Al Barakah Bambu Runcing, Kauman, Parakan, yang dimeriahkan dengan berbagai macam unjuk kebolehan dari beberapa jenis kesenian, baik yang tradisional maupun modern yang sudah diadakan tiap tahun sejak 1995. Sebaliknya, saat Hari Raya Imlek, masyarakat bersama-sama menikmati hiburan Liong atau Barongsai dan kadang-kadang Wayang Potehi atau boneka panggung khas negeri Cina di halaman kelenteng. Demikian pula saat hari Natal sering diadakan hiburan atau bazaar yang melibatkan masyarakat dari agama lain.

Bahasa Daerah :
Mayoritas penduduk menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari. Penggunaan strata (Krama - Ngoko)dalam bahasa juga masih sering dipraktekkan. Dialek Jawa di Parakan tidak jauh berbeda dengan dialek mataram yang merupakan prosentase terbesar dialek bahasa Jawa di Jawa Tengah. Meski demikian, dialek Banyumasan mulai mencampur dalam dialek Parakan. Yang paling kentara adalah penggunaan "nyong" sebagai kata ganti orang pertama tunggal, yang serupa dengan dialek Banyumasan. Beberapa kata bahkan muncul sebagai ciri dialek yang tidak dapat ditemui pada dialek bahasa Jawa lainnya. Misalnya kata "jotek" yang sinonim artinya dengan kata "emoh" (tidak mau) dalam dialek bahasa Jawa lainnya. Kata-kata lainnya antara lain :
* ha-njuk = lalu
* jidor = sukurin / rasakan akibatnya / biarin
* gage / gekndang = ayo cepat / bergegas
* ndak = apakah
* de-e = kamu
* ndais = sukurin

Kesenian Tradisional :
* Kubro (Kubrosiswo): Tarian dengan memakai seragam & topeng, diikuti dengan alat musik pukul. dimainkan juga oleh anak anak.
* Jaran Kepang (Kuda Lumping): Tarian dengan menggunakan tunggangan kuda yang terbuat dari bambu dan dihias meriah.
* Ndibak: Lantunan puji-pujian Islami dalam bahasa Arab, yang dinyanyikan bersama-sama.

Makanan Tradisional :
* Emping Ento, sejenis emping yang terbuat dari ketela pohon, rasanya gurih.
* Sego Gana, nasi yang dicampur dengan sayuran, parutan kelapa, ikan teri, tempe dan kadang-kadang juga ditambah kentang.
* Gudeg Gurih, berbeda dengan gudeg yogya, gudeg di daerah ini manis tapi gurih.
* Sego Jagung (Nasi Jagung) yang disertai sayuran rebus dan rempeyek jagung/teri
* Coro Bikang, makanan kecil yang termasuk salah satu jajanan pasar yang terbuat dari telur & krim, rasanya manis
* Lemper, juga merupakan jajanan pasar yang terbuat dari ketan dengan daging ayam di dalamnya, disajikan dengan dibungkus daun pisang
* Bolu, yang berbeda dengan pengertian bolu pada umumnya. Bolu di sini berdiameter kecil (segenggaman tangan) dan dipanggang sehingga permukaannya berwarna cokelat.
* Wehku atau Moho, semacam bikang berwarna putih dan berasa manis.
* Pelok, semacam kue kering berbentuk oval yang berbahan sama dengan kue bolu.

Makanan di Parakan juga banyak yang dinamai dengan istilah yang unik2, antara lain:
* Endog Gludug, secara harafiah bisa diartikan sebagai "telur (endog) guling (gludug)". Dibuat dari ketela pohon yang dilumat, dicampur gula, garam & vanili dibentuk bulat dan digoreng, kemudian dilumuri wijen.
* Tempe Kemul tempe bersalut tepung yang digoreng atau semacam mendoan gaya Parakan.
* Tahu Cokol, atau tahu isi irisan wortel, kecambah dll.

http://id.wikipedia.org/wiki/Parakan,_Temanggung

Carut-marut penempatan jabatan di SOTK daerah (3-habis)

Pejabat baru perlu diberi waktu

DILIHAT dari fakta yang ada dari penataan SOTK baru di berbagai daerah memang sempat memunculkan nada pesimistis. Namun sebenarnya tidak semua harus demikian. Artinya perlu dikedepankan pula rasa optimistis dalam hal ini. Bahwa penataan SOTK ditujukan untuk perbaikan sistem pemerintahan, sehingga pelayanan terbaik kepada masyarakat akan terwujud.

Sebab menurut pakar Administrasi Publik Undip, Drs Ali Mufiz MPA, yang juga mantan Wakil Gubernur dan Gubernur Jateng periode 2003-2008 adanya SOTK, merupakan tindak lanjut dari PP 38 dan PP 41 tahun 2007, sebagai pelaksanaan UU 32/2004 tentang otonomi daerah. PP 38 berisi tentang pembagian urusan pusat dan kabupaten, sedangkan PP 41 menyangkut kelembagaan di semua daerah.

Pemerintah daerah harus berhadapan dengan dua kenyataan, yakni wajib sekaligus pilihan untuk melaksanakan SOTK. Wajib karena ada aturan yang harus dilaksanakan. Pada sisi yang lain, pilihan merupakan hak pemda setempat karena sudah ada penataan sebelumnya dalam struktur pemerintah masing-masing.

Ali Mufiz menguraikan, dalam mewadahi tugas pada penataan SOTK tersebut, ada sejumlah pertimbangan, antara lain kebutuhan daerah, kemampuan, ketersediaan sarana dan prasarana, dan cakupan tugas di daerah yang bersangkutan. Selain itu, kondisi geografis dan potensi yang dimiliki daerah tersebut. ”Setiap daerah tidak harus sama karena kebutuhan serta cakupan tugas yang berbeda,” ujarnya.

Yang perlu dipahami, kata dia, bahwa UU sektoral masih berlaku. Misalnya, terkait pemuda dan olahraga dengan keluarnya UU tentang Pemuda dan Olah Raga. Alhasil, UU mengamanatkan, Pemuda dan Olahraga harus memiliki Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) tersendiri. Selain itu, ada hal-hal teknis yang harus diakomodasi, misalnya penyuluh KB atau Badan Narkotika yang sesuai UU sektoral harus terakomodasi dalam SKPD.

Padahal, penataan itu juga tidak serta merta berawal dari nol. Paska keluarnya aturan SOTK, pemda telah memiliki penataan tugas yang excited. Akan tetapi, penataan itu tetap harus dilakukan dengan tetap mengakomodasi SDM yang ada. Namun, di sini juga letak tantangan dari pemda dalam penataan personel serta aset dan fasilitas yang ada.

Ali Mufiz mencontohkan, pengalamannya dalam melakukan penataan SOTK di tingkat provinsi yang berlangsung pada pertengahan 2008 silam. Dia mengemukakan, pihaknya sebelum menentukan pejabat baru telah menyusun Baperjakat yang bertugas melakukan penelitian terhadap para pejabat yang akan menduduki SKPD yang baru. Dia memberikan poin penting dalam penyerahan tanggung jawab itu, yakni kepercayaan. ”Berangkat dengan kepercayaan, beri kesempatan 2 sampai 3 tahun, baru dilakukan penyempurnaan bagi pejabat baru,” katanya.

Psikologis
Dia menyadari, personel yang terkena proses penggantian SOTK itu pada awal kerjanya mereka pasti akan mengalami kendala psikologis dan fisik, yang membutuhkan penyesuaian. Bukan saja dengan lingkungan orang-orang yang baru, namun juga fasilitas yang mereka hadapi.

Mufiz tidak menampik adanya asumsi pertimbangan akademik dalam penentuan penempatan SKPD tersebut. Misalnya, pejabat untuk Dinas Pekerjaan Umum (DPU), harus lulusan teknis dengan gelar ke-insinyur-annya. Boleh jadi, semua memang sepakat dengan hal itu.

Akan tetapi, pemda juga harus mempertimbangkan aspek kemampuan manajerial yang harus dimiliki oleh seorang pimpinan. Selain itu, aspek administratif menyangkut tingkat golongan, riwayat pekerjaan, kemampuan atau kinerja, dan aspek moralitas. ”Tidak sepenuhnya pertimbangan latar belakang pendidikan menjadi dasar utama penentuan SKPD," imbuhnya.

Lintas sektoral
Kendati berpesan agar SOTK dilihat case by case, Mufiz mengakui keraguannya apakah aturan itu akan selamanya bisa dilaksanakan. Pasalnya, aturan ini menutup celah kemungkinan terjadinya manuver atau perpindahan lintas sektoral bagi PNS dalam tingkat pemerintahan yang berbeda baik vertikal maupun horisontal.

Padahal, Indonesia sebagai negara kesatuan semestinya memiliki celah agar ada kesempatan bagi warganya untuk memiliki kesempatan secara vertikal dalam jenjang karir mereka. "Misalnya saja ada potensi di sebuah kabupaten yang bisa dimanfaatkan oleh kabupaten lain, atau seterusnya pada tingkatan di atasnya, sehingga pandangan bisa menjadi lebih luas, dan birokrasi tidak menjadi miop atau seperti katak dalam tempurung," pungkasnya.

Seharusnya, peraturan harus memberikan kesempatan kepada PNS yang potensial untuk berkembang semaksimal mungkin. Misalnya ada PNS di daerah yang potensial harus bisa meningkatkan atau mengembangkan potensinya di pemerintah provinsi (manuver vertikal). Atau PNS di daerah satu bisa bermanuver horisontal yakni mengembangkan potensi di daerah lain karena di tampatnya sudah tidak memungkinkan untuk berkembang. "Jadi penempatan pejabat tidak harus dari PNS setempat. Tetapi dengan catatan tidak ada PNS setempat dinilai tidak ada yang kapabel menempati jabatan tertentu sementara di PNS daerah lain ada, maka bisa saja diambil," tandasnya. rth-yan (Wawasan, 17 Januari 2009)

Pengikut